Saya waktu wawancara hanya mengatakan kalau upaya saya ini didorong keinginan saya untuk lebih banyak berperan dalam dakwah (doakan saya mudah-mudahan dikaruniai keikhlasan untuk ini). Saya teringat para pendahulu kami di kampung, para pendakwah sederhana, mengajar ngaji yang rela mengajar tanpa dibayar, ditengah lingkungan yang berat, dengan hanya berbekal motivasi untuk mencari keridhaan Allah dan kecintaan akan ilmu. Dibanding perjuangan mereka saya jelas bukan apa-apanya (Saya sering bilang kepada teman-teman, kita ini berdosa kalau tidak bisa meneruskan perjuangan kakek-kakek kita). Jadi sekedar meluangkan sedikit pikiran, tenaga dan finansial sendiri saya kira dan mudah-mudahan tidak terlalu menjadi persoalan. Saya sebenarnya hanya sedikit masalah justru dengan dukungan moral. Saya ini bukan tipe one-man-show, dan seringkali saya justru terpojokkan dalam situasi seperti itu. Tanpa dukungan moril, saya ini mudah sekali goyah. Tentu saja dukungan dari mana-mana terus mengalir (lewat web, email, SMS) namun terkadang satu-dua hal negatif bisa berimbas besar bagi saya.Ini barangkali salah satu kelemahan besar saya.
Namun, bagaimanapun, ini adalah mimpi kecil indah saya, tempat saya berpijak dengan nyaman, ditengah hiruk-pikuknya idealisme untuk merubah sesuatu yang besar (nasional? ASEAN? Internasional?...
Lebih dari itu, saya berharap ini dapat menjadi jalan untuk berbuat kemanfaatan yang lebih besar bagi banyak orang dan jalan menuju keridhaan.
Seperti diungkap dalam sebuah hadis, "Khairukum anfauhum linnas", sebaik-baik dari kita ini adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain. Mudah-mudahan kita termasuk di dalamnya...
Mohon doa dan dukungannya...












Salam. Perkenalkan saya Muh.Tamim. Saya seorang praktisi pendidikan. Concern pada pemanfaatan AI di pendidikan dan pembelajaran. Tinggal di Jogja Dapat dihubungi via 